Ini tulisan seorang Indonesia yang tinggal di Swiss untuk anggota dewan DPR atau
sejenisnya yang suka belanja barang barang mewah di luar negeri.:
..............
Salah satu impian saya : memiliki jam Rolex. Tapi itu
dulu, impian lama. Sekarang, setelah tiga tahun
menetap di Swiss, impian lama itu malah
menjadi sejarah yang agak memalukan.
Pengalaman dengan Rolex ini saya dapatkan dalam
liburan terakhir di
Jakarta,
sebulan silam. Hampir dalam setiap penerbangan
domestik antara Bali,
Surabaya dan Jakarta, rata rata saya temui laki laki
paruh baya dengan
jam
mahal ini. Entah asli atau abal abal, yang penting
saya lihat dengan
jelas
mereknya : Rolex dengan simbol makohtanya.
Dalam perbincangan dengan Arey, karib saya yang begitu
tergila - gila
dengan
benda pengukur waktu ini, Rolex memang idaman nyaris
sebagian besar
laki
laki Indonesia, khususnya yang sudah mapan. Bahkan,
ada yang sampai
koleksi
Rolex dari belasan hingga ratusan biji.
Seorang perwira polisi atau pejabat negara yang
duitnya seperti memetik
saja
dari pohon belakang rumah, dipastikan memiliki jam
tangan buatan Swiss
ini.
Jangan kaget jika ada berita rumah pejabat tersebut
digarong maling,
kerap
ada laporan hilangnya Rolex kesayangannya.
Pemakai Rolex saya temukan lebih banyak di tanah air
ketimbang di Swiss
ini.
Di antara kerabat dan kenalan di Swss, baru satu yang
saya tahu
memiliki
jam jenis ini. Dia adalah Rachel Hueber, salah satu
kerabat dekat.
"Kamu suka ya Kris, he he he, aku tahu kok, "ejeknya
ketika saya
mengelus -
elus jam ini di kediamannya suatu kali.
"Berapa sih belinya, dan mengapa kamu sampai beli jam
ini?" tanyaku.
Maklum, inilah kali pertama saya melihat manusia Swiss
memiliki jam
mewah
tersebut.
"Ini hadiah dari kakek, " ujarnya. Sebelum meninggal,
imbuh Rachel,
kakeknya
mengahdiah setiap cucunya dengan jam tersebut.
Tanpa atas nama hadiah itu, kata Rachel, tak akan dia
membeli jam mewah
itu.
"Toh, fungsinya satu, sebagai penunjuk waktu,"
katanya. Dari tanya sana
sini
dan kerap ngintip di toko jam di negeri ini, saya
perkirakan Rolex di
dapur
Rachel seharga 4500 USD-an.
Tapi, di Swiss ini bukan tak pernah saya menemukan
manusianya
mengenakan jam
tersebut. Cuma, memang bukan laki laki atau wanita
Swiss asli. Sebagian
besar adalah imigran. Di tempat saya kerja dulu,
seorang laki laki asal
Balkan dengan bangga mengenakan Rolex-nya, yang
katanya hadiah dari
kekasihnya, yang asli wanita Swiss. Seorang pemuda
asal Afrika, dalam
satu
kelas kursus saya, malah menggunakan Rolex berlapis
emas yang
mengkilap.
"Apa orang Swiss tidak memamerkan kekayaannya?" tanya
saya kepada
Paula,
salah satu sahabat.
"Tidak berlebihan seperti orang Asia atau Afrika,"
katanya.
Dalam kehidupan sehari – hari, orang Swiss akan
menyembunyikan
kekayaannya.
Di jalanan, sangat sulit membedakan mana si kaya,
siapa yang papa.
Semuanya
nyaris sama, sebangun dan kongruen untuk ukuran
kekayaannya. Guebelin,
salah
satu orang kaya di Luzern, sehari hari mengendarai
mobil butut. Kadang
juga
naik sepeda pancal. Beberapa orang kaya di Goldau,
Swiss Tengah, yang
saya
kenal, juga demikian. Hand phone Patrick, salah satu
pewaris perusahaan
konstruksi baja yang menjadi teman bermain karambol
saya saban bulan,
adalah
Ericson yang antenenya mirip sirip ikan hiu. Mobilnya
juga cuma mobil
kombi
merek biasa.
Orang Swiss, kata Paula, akan memperlihatkan
kemewahannya pada saat
saat
khusus. Atau menyimpannya untuk meningkatkan kualitas
hidupnya.
Misalnya
memiliki rumah liburan di pinggir danau atau di pucuk
dan lereng Alpen.
Rumah jenis ini, bukan saja sangat – sangat mahal,
namun juga sudah tak
ada
lagi yang baru, karena ijin bangunannya sudah ditutup.
Selebihnya, ya tersembunyi.
"Nonton konser musik klasik, misalnya, atau pas
liburan di Saint
Morizt,
biasanya baru terlihat yang kaya itu, " imbuh Paula.
Saint Morizt
adalah
tempat tetirah orang kaya dunia. Di acara acara
khusus itulah, mobil
mewah
atau pameran kekayaan lainnya, akan terlihat.
Sementara Rolex, lebih banyak dikonsumsi imigran atau
penduduk negara
dunia
ketiga. Jangan heran jika toko Louise Vuitton di Paris
mesti menerapkan
nomor antri untuk bisa memasukinya. Dan jangan kaget
jika yang antri
tersebut, sebagian besar adalah turis Asia.
Impian lama ini, belum redup hingga tahun kedua
menetap di Swiss.
Saban
lewat Bucherer, toko jam mewah di Luzern, selalu saya
pelototi lekat
lekat
harga Rolex di kotak kacanya. Suatu kali saya bahkan
masuk dan minta
brosur
tentang jam tangan mewah ini. Di Jenewa, saya juga
sempat minta brosur
Breitling, sebuah jam mewah yang lain.
Kini, impian memiliki Rolex -- yang harganya
terjangkau dengan gaji
saya --
akhirnya redup. Saya akan malu memakainya di Swiss,
karena kerabat atau
kenalan akan memicingkan matanya. .
Entah kalau di Indonesia nanti, mungkin saya akan
memakai Rolex juga,
karena
menjadi orang kaya di tanah air, nyaris tak berbeda
laiknya hidup di
setengah sorga.
Recent Comments